Karakter

15 11 2009

Siklus tahunan itu kini telah bergulir ke dalam fasenya lagi. Beragam aktivitas yang mewarnai kegiatan tersebut mulai marak, lobi secara personal, pasang banner, flayer, baleho, dan penciptaan personal branding yang dilakukan secara kolektif, hingga rencana rahasia antar rival mulai digelar di tempat-tempat strategis. Tak hanya waktu, tenaga dan dana pun mulai menjadi sebuah harga yang harus digadaikan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut dinamakan sebuah pemilihan raya keorganisasian di sebuah PTN diselatan kota jakarta.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka berbicara masalah ini. Toh, ga ada yang jauh beda dengan pemilihan sebelum-sebelumnya. Ada berbagai calon dari berbagai platform dan background. Bagi yang sudah familiar dengan sebuah aktivitas politik mahasiswa maka sudah tak asing lagi dengan kendaraan yang dibawa oleh calon masing-masing. Ada yang berbasiskan massa dari mushola hingga basis massa dari organisasi yang pernah diikutinya. Sebagai seorang yang dapat dikategorikan apatis dari kegiatan ini , saya pun tak ambil pusing. Mau dari background apapun, terserah siapa calonnya , entah apakah saya milih atau tidak milih. Jika saya belum teryakinkan saya g akan milih, buat apa milih jika hanya atas dasar fanatisme dan lobi –lobi personal yang saya juga tak tau kesehariannya seperti apa.

Entah mengapa pemira dalam ruang lingkup skala universitas tak terbesit untuk mengetahui lebih lanjut. Saya tau hanya karena ada simpatisan yang terlalu berlebihan dalam berkampanye  dikelas dan dekat tempat ibadah atau karena balehonya terpasang besar didepan fakultas. Yah, tau sendirilah siapa calonnya. Sampai sekarang pun saya tak ada minat untuk mengetahui visi misinya. Entah, apakah saya orang yang apatis, tidak peduli, atau seorang yang aneh, tapi saya yakin bahwa orang yang seperti saya jauh lebih banyak daripada orang yang aktif.

Hal jauh yang kadang menarik untuk diamati adalah pemilihan ditingkat fakultas dan jurusan. Model jualannya pun sedikit berbeda, bila pada tingkat universitas lebih kejualan visi, misi dan track record organisasi. Model jualan di ranah ini lebih ditikberatkan pada jualan karakter. Dengan tim yang aktif untuk personal branding dan personal campaign. Satu kata yang menarik untuk dibahas adalah “karakter”. Baca entri selengkapnya »





Di dalam Kopaja 57

29 08 2009

Di setiap tempat kita menjaalani hidup ini akan selalu ada cerita yang menarik untuk dibagi. Cerita kehidupan yang akan dapat dikenang, khususnya bagi  kita  sendiri yang mengalaminya.

Hari selasa, 25 Agustus 2009 adalah hari yang bersejarah bagi temanku. Pada hari ini dia menjalani seleksi wawancara beasiswa mombukagakusho di Kedutaan Besar Jepang yang terletak diderah Bilangan Bunderan Hotel Indonesia.

Sebagai seorang mahasiswa yang  sudah setahun ini tinggal di depok dan bermobilisasi di sekitar jakarta, wilayah tersebt tentu sudah tidak asing lagi bagai saya. Karena memang teman saya juga berasal dari daerah saya pun mengantarkannya untuk seleksi wawancara.

Wawancara di mulai pukul 8.30, maka kami berangkat dari depok sekitar pukul 6.00. Alhamdulillah kami sampai di kedutaan jepang sekitar pukul 8.00 Baca entri selengkapnya »





Bahasa Jalan Raya

13 08 2009

Kehidupan di jalan adalah salah satu hal yang menarik untuk di amati. Banyak sekali kejadian-kejadian yang mungkin diluar pikiran kita. Kemacetan, polusi, lalu lalang kendaraan beserta manusia-manusia yang andil diadalamnya menjadi sebuah potret  kehidupan yang unik. Entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu tertarik mengamati berbagai aktivitas yang ada di jalan raya.

Perjalanan Mampang–Depok  yang cukup melelahkan jika harus bolak-balik setiap hari. aktivitas ini menjadi  sebuah rutinitas yang harus aku lalui bila ada urusan ke Depok. Perjalanan tersebut dimulai dengan keluar dari jalan mampang Prapatan VI,tepat disamping Pom Bensin Pertamina.  Dari jalan tersebut akan mampak baleho iklan Pejaten Village. Tiga bulan lalu Hypermart , sekarang Gramedia. Entah besok apa lagi. Dapat ditebak, sebagai icon pusat perbelanjaan yang masih baru di daerah buncit kemungkiann besar toko-toko besar akan diiklankan lagi di jalan, tepatnya di jembatan penyeberangan. Tak banyak yang spesial di jalan tersebut, selain lalu lintas kendaraan yang lalau lalang.

Satu hal yang menarik adalah menyimak tingkah polah pengendara di lampu merah. Bengong, bercakap-cakap, dan cemas tidak sabar. Kalo sudah macet lama, klakson lah yang menjadi andalannya. Saya kadang juga bingung, bila ada kendaraan yang agak lama jalannya , pasti suara klakson dari belakang sudah menyerbu. Kasihan juga orang yang  mempunyai mobil atau motornya sudah tua, yang kadang-kadang kendarannya agak rewel ketika lampau hijau menyala . Padahal kebanyakan juga sudah pada tau , kurang dari satu menit lagi juga berjalan. Untuk bersabar sesingkat itu saja begitu berat, dan kekesalan harus diungkapkan orang dengan membunykan klakson berkali-kali. Bila berpikir logis, kajadian itu malah akan menambah polusi. Setelah polusi udara, bertambah menjadi polusi suara.

Hal lain yang mengindikasikan suasahnya bersabar di jalan, adalah kopaja/metromini yang berebut penumpang. Ujung-ujungnya berimbas pada saling kejar mengejar antar metromini. Hal ini tidak hanya berdampak pada tidak tertibnya lalu lintas, yang berdampak pada risiko keselamatan, tetapi juga penumpang kendaraan tersebut. penumpang disuruh buru-buru turun oleh kondektur metromini dengan motif agar tidak terkejar kendaraan dibelakangnya atau dapat menyalip kendaraan didepannya.

Saya jadi terpikir, apakah tidak ada jadwal yang mengatur mobilitas dari kendaraan-kendaraan tersebut? atau karena tekanan hidup yang berat harus memaksakan pekerjaan, yang notabennya melanggar hak orang lain?





Esai

10 08 2009

Sudah cukup lama tangan ini kaku tidak menuliskan di catatan ini. setelah kembali ke jakarta , niat untuk menulis kembali meredup. padahal banyak sekali inspirasi yang ada. perjalanan depok-mampang  sebenarnya dapat menjadi catatan tersendiri yang dapat dituliskan dalam halamaan wordpress.

Berbicara masalah kegiatan di depok dan jakarta ,  saya termasuk bukan ornag yang sibuk. maen dengan junior yang ada di UI, mangkir ke KSM di pusgiwa dengan sedikit tugas yang harus diselesaikan, ngurus bayar BOP, dan anterin ponakan sekoalah. Tapi entahlah untuk  aktivitas menulis memnag begitu berat untuk dilakukan.

sedikit sharing, kemarin dapat tugas buat esai tentang refleksi 64 tahun kemerdekaan indonesia. jujur , saya bingung mo buat artikel apaan. tapi setelah berpikir panjang, akhirnya kuputuskan untuk menulis bidang pertanian. saya yakin esai saya jelek.  tapi saya tenang saja , toh itu bukan bidang saya. jika banyak salahnya saya akui kesalahan tersebut. karena saya tidak  mengumpulkan bahan yang banyak.  berikut ini esai saya :

Ketahanan Pangan : Paradoks yang tumbuh subur selama Enam Puluh Empat  tahun

Enam puluh empat tahun sudah negeri ini menjadi sebuah Negara yang diakui oleh komunitas dunia alias merdeka. Ibarat fase kehidupan , pada usia tersebut Negara Indonesia sudah dianggap mapan dan berpengalaman dalam menentukan sebuah kebijakan yang baik bagi rakyatnya. Begitu banyak sejarah yang telah terukir yang dapat menjadi bekal untuk menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia. Namun, ada salah satu bidang yang sampai saat ini masih terlihat statis perkembangannya, yaitu masalah ketahanan pangan. Baca entri selengkapnya »





Parodi Kehidupan Kereta dari Yogyakarta hingga Jatinegara

5 08 2009

keretaDi setiap tempat kita dapat mempelajari sesuatu hal yang menarik. Sesuatu hal yang bermakna dalam hidup kita, atau sesuatu hal yang dapat kita renungkan bersama. Kejadian-kejadian umum yang sepertinya kita anggap biasa, apabila kita selami lebih jauh akan terlihat sebagai hal yang luar biasa. Hanya tinggal menyiapkan pikiran sehat dan hati yang terbuka untuk berempati, kita akan mendapatkan sesuatu hal yang menarik untuk dilihat lebih dekat.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dengan kereta bisnis Fajar Utama bagi sebagian orang adalah sesuatu yang membosankan. Begitu pula bagiku. Rasa panas, berisik para pedagang, pengamen, dan kereta yang sering berhenti di hampir setiap kota adalah hal yang kadang kala membuat hati ini jengkel. Namun, apalah gunanya aku jengkel. Toh tidak akan merubah keadaan. Itu sudah menjadi pilihan bagiku, membeli tiket kelas bisnis  dengan motif agar tidak merogoh kantong tidak terlalu dalam. sebagai mahasiswa daerah yang berasal dari kelas ekonomi  menengah kebawah, sebenarnya hal tersebut sudah wajar bagiku. Selama hampir 3 tahun sekolah , aku juga harus naik kenadaraan umum 3 jam perhari dengan kondisi yang hampir sama. Yah….itulah sebuah seni dalam hidup, mencari kebahagian di tengah kehidupan yang dianggap sebagian orang sebagai hal yang mustahil untuk hidup bahagia.

Tanggal 03 Agustus 2009, Tepat pukul 8.00 Waktu jogja aku dan temanku (bang irul FKG 2006) berangkat dari stasiun tugu Yogyakarta. Kami dari Utara UGM ke stasiun diantar dua orang  teman dari bekasi yang menuntut ilmu di Jogjakarta, iman dan aji. Tak ada yang asing bagiku di stasiun tersebut. ruang trunggu, satpam, suara nada peringatan stasiun, gerbong-gerbong kereta menjadi saksi atas kebarangkatan kami.

Yogya – Purwokerto

Perjalanan yogya purwokerta berjalan lancar, hampir tidak ada penjual dan pengamen. Awalnya juga sempat bingung, karena kata teman  “dari stasiun wates sampai Cirebon (bahkan Bekasi) ada saja penjual dan pengamen dikereta”.  Tapi sekarang kondisinya berbalik , sepi senyap. Baca entri selengkapnya »





Dan Yogyakarta pun Kutinggalkan

2 08 2009

Di malam yang sunyi , kutuliskan  sedikit fragmen kehidupan yang telah kujalani selama sebulan ini di Yogyakarta . Tulisan ini bukanlah tulisan yang indah dan layak dibaca. Ini hanyalah sebuah tulisan apresiasi kepada teman-teman yang telah baru ke kenal dan menjadi sebuah semngat hidup yang baru. Sebuah catatan ringkas sebelum meninggalkan kota Yogyakarta, menuju Jakarta Esok Pagi, 3 Agustus 2009.

Tepat pada tanggal 2 july 2009 kulangkahkan kakiku menuju Yogyakarta. Sebuah kota yang tak asing lagi khusunya bagi masyarakat jawa.  Dengan harapan dapat menuntut ilmu dan berkenalan dengan ornag-orang shaleh , kumulai perjalanan di kota tersebut dengan naik kendaraan umum dari rumah tercinta di Simo, Boyolali. Dengan dua kali naik bus, akhirnya saya sampai di daerah janti,  tepatnya di bawah fly over janti, pintu masuk kota Yogyakarta dari arah solo. Dengan keyakinan bahwa masyarakat yogya adalah masyarakat yang ramah, ku bertanya sana-sini, dan akhirnya aku sampai juga di lingkungan kampus UGM. Sebuah kampus yang mempunyai reputasi baik di bumi nusantara.

Setelah menunggu sekian menit di dekat halte trans jogja , akhirnya teman SMA ku datang . dia menjemput ku dan menjamu saya selama 3 hari. Kurasakan kebersamaan dengan teman lama dengan suka cita . sebuah rasa yang t sudah mulai hilang ketika saya di Depok. Karena  saya di UI  hanya beddua dengan teman SMA, maka Teman – teman SMA  sudah jarang ku temui. Baca entri selengkapnya »





Catatan

29 07 2009

Sudah beberapa hari ini saya tidak menulis di blog. Mungkin sudah hampir satu pekan, semenjak tulisan tentang sebuah harapan saya postingkan sekitar tanggal 24 kemarin. Sebenarnya saya ingin sekali menuliskan pengalaman apa yang telah saya alami. Saya tidak bermaksud untuk mencari sebuah pujian, cercaan, atau pun hal yang lain. Tatapi hanya sebuah upaya untuk membiasakan diri terhadap sebuah budaya yang positif yaitu budaya menulis.

Kehidupan yang   saya alami tidak jauh berbeda dengan mayoritas manusia kebanyakan (yang seusia dengan saya). Seorang manusia yang hidup di lngkungan kampus umum, dgn segala kesibukan serta serb-serbi kampus yang sudah dapat diprediksikan seperti apa bentuknya. Namun, satu hal yang perlu saya garis bawahi bahwa  walaupun setiap manusia mempunyai kebiasaan dan rutinitas  yang hampir sama, sesungguhnya kita mempunyai perspektif yang berbeda dalam memandang sebuah pengalaman hidup. Baik pengalaman kita sendiri ataupun pengalaman orang lain.

Dalam menjalani kehidupan yang  terwujud dalam berbagai rutinitas, kadang kita hanya terpaku pada satu sudut pandang saja. Jarang sekali kita melihat diri kita dari sudut pandang yang lain. Sehingga , kita cenderung subyektif  dalam menilai diri kita dan sulit menerima kenyataan kebenaran dari orang lain. Baca entri selengkapnya »