Bengawan Solo, Riwayat mu kini………


Siapa yang tak kenal dengan bengawan solo. Sebuah sungai yang mengalir di timur kota solo alias Surakarta. Sungai yang dapat dikategorikan sebagai sungai terpanjang di Jawa. Kemashuran namanya makin terkenal ketika Gesang Membuat lagu yang berjudulkan sungai ini. Dalam syair lagu yang legendaries tersebut , digambarkan begitu terkenal dan indahnya sungai yang menjadi land mark kota budaya ini. Namun, yang menjadi ganjalan dipikiran saya apakah Sungai Bengawan solo masih seperti untaian syair lagu yang dilukiskan mbah Gesang tersebut.

Tepat siang ini, aku menonton TV. Aku begitu tertarik akan berita yang dibawakan oleh presenter salah satu TV News tersebut. Hal ini dikarenakan ada berita dari solo yang dijadikan headline. Lagi –lagi banjir….gerutuku dalam hati. Tidak di Jakarta, tidak di semarang, di solo pun banjir sudah menjadi sebuah bencana rutin yang datang tiap musim penghujan. Alasannya klise dan sama dengan banjir – banjir di kota lain. Jika di Jakarta Sungai Ciliwung yang menjadi Penyebabnya maka di Kota Budaya ini , Sungai Bengawan Solo lah yang dikambinghitamkan. Sungai bengawan solo yang meluap, intensitas air yang diatas rata- rata dan pendangkalan sungai. Itulah hal yang sering kita dengar terkait dengan banjir di kota dengan jargon spirit of Java ini.

Dalam benakku, adakah sesuatu yang salah dengan sungai tersebut? Apakah itu benar – benar murni banjir alam yang tidak ada kaitanya dengan manusia disekililingnya? Ataukah Sungai tersebut beralih Fungsi menjadi tampungan benda – benda asing yang seharusnya tidak tertampung disitu? Aku juga tidak mengerti kondisi sebenarnya. Mungkin teman – teman yang tinggal di daerah sekitar bengawan tau kondisinya atau teman- teman yang paham tentang kontur dan DAS Bengawan juga tau.

Sebagai seorang yang awam mungkin aku hanya dapat berkomentar sedikit. Hal yang seharusnya menjadi perhatian bersama adalah revitalisasi sungai bengawan solo. Jangan sampai banjir tersebut manjadi sebuah kenyataan yang terus berulang dan melekat di kota budaya tersebut. Banjir memang hal yang wajar, namun membiarkan banjir terus terulang tiap tahun adalah hal yang tidak wajar.

Sumber gambar : http://www.sragen.go.id

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s