Perkumpulan Komunitas: Antara Bentuk Keakraban Sosial dan Primodiarlisme

Mulai liburan ini aku sering browsing di internet. Selain buka – buka email, facebook, dan Friendster aku juga mulai buka – buka situs yang berkenaan dengan daerahku. Mungkin kamu dapat bilang kurang kerjaan ato hal yang narsis ato rasis. Ketika gw sedang asyik browsing hari ini , gw jadi inget situs boyolali.net, suatu situs untuk komunitas warga boyolali di dunia maya. Sebagai seorang yang suka browsing gw sangat appreciate terhadap situs tersebut dan tek lupa gw gabung dengan milisnya. Dari Berita yang gw dapat ternyata ahad ini, 1 Februari ada Kopdar ( Kopi Darat ) komunitas tersebut se jabodetabek di Setiabudi Building, daerah Kuningan. Sebenarnya gw sih ingin ikut acara itu. Selain buat jalin silaturahmi juga bisa bikin network ( he…he…3X) , tapi sayangnya tanggal 2 Februari gw udah harus kuliah jadi terpaksa deh gw g ikut.

Another story….

Gw udah hampi 6 buaan ini tinggal di asrama tercinta. Banyak hal yang dapat gw rasakan. Mulai dari perasaan suka , sedih, dan lain-lain. Pokoknya campur-campur kaya premen nano-nano. Hal yang menjadi sepintas perhatian gw selama ini adalah kantin asrama. Tempat paling ramai dan multifungsi di seantero komplek asrama . Dari mulai makan, belajar, nonton bareng, bergosip ria, semua lebur jadi satu ditemapat itu. Jadi g kebayangkan kan bertapa berisiknya. Budaya yang g juga kalah adalah budaya kumpul satu daerah. Fenomena tersebut mulai sering terlihat ketika bulan desember kemarin ketika penghuni asrama pada bahas rencana sosialisasi ke sekolah masing-masing. Hal yang kuanggap kurang enak adalah ketika banyak yang mengunakan tempat duduk kantin untuk bahas rapat mereka sampai malam sehingga menyulitkan teman-teman yang mau makan untuk mendapatkan tempat duduk. Aku pun sempat berkata dalam hati :’kayakna kantin ini udah harus diperbesar.”

A Little Paragraph

Ngumpul , kopdar, ato paguyuban daerah memang sudah menjadi trend di negeri ini. Kondisi yang serupaa merupakan dampak dari adanya nasib yang sama di tanah rantau. Selain itu, perkembangan teknologi juga merapatkan kekraban mereka menjadi semakin eksis.

I can conclude that…….

Hal yang wajar yang sering kita pahami bersama bahwa manusia tidak dapat hidup sendiri. Saya yakin bahwa kita semua juga sudah tau bahwa antara tanah kelahiran, komunitas asal , dan budaya dasar masyarakat disekitar perkembangan kita akan selalu tertancap kuat di diri kita. Sebagai bentuk implikasi dari semua itu adalah adanya rasa kecintaan terhadap sesama manusia yang sama background dan kulturnya. Saya berasumsi bahwa persamaan dasar tersebut jauh lebih kuat dan mengakar daripada persamaan kepentingan. Jauh lebih mengakar daripada persamaan visi dan misi. Namun , dari semua itu hal yang perlu diwaspadai adalah jangan sampai bentuk perkumpulan tersebut menjadikan diri kita bersikap eksklusif dan merasa paling baik. Jangan sampai kita bersikapkekanak-kanakan dalam menyikapi hal yang demikian. Good luck.

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s