Sekolah Informal

Seminggu sudah,  kuliah semester dua ini aku lalui. seperti kuliah disemester sebelumnya, kuliah di semester ini pun tak jauh bedanya.  Bangun di pagi hari , mandi, berangkat ke kampus, ngerjain tugas kelompok ( tapi belum ), dengerin lecture, baca buku kuliah dan istirahat. Namun , pagi ini mungkin berbeda dengan hari – hari sebelumnya. Hal utama ynag membedakannya adalah hari ini adalah hari libur. Sudah ada agenda yang harus  dikerjakan di pagi ini. Hari ini adalah rapat perdana SFSC setelah liburan yang lalu. kondisi rapatnya pun tak jauh beda. lagi – lagi saya datang telat ( gw indonesia banget sich). Tidak tau kenapa saya datang telat padahal sudah kuprediksikan sejak malam tadi. Sudah ku estimasi waktunya secara kasar. kenyataannya saya juga telat . Biarlah moment ini menjadi catatan tersendiri bagiku.


sebelum dzuhur rapat sudah selesai. kamipun bubar dan beralih ke rencana masing-masing. ada yang ke bogor, ada yang pulang ke jakarta, ada yang mo hadir ke walimah , ada yang tetep di tempat tersebut. aku pun berencana untuk ikut bersama teman – temanku datang ke TIS. Dalam benakku,  TIS merupakan wadah sekolah informal bagi anak-anak yang kurang mampu. aku langsung teringat dengan anak-anak di yayasan bina insani mandiri,mereka dalah  anak-anak jalanan di terminal depok yang menjadi daerah binaan social activity 4, SFSC jakarta. mereka adalah anak-anak yang kurang beruntung, anak-anak yang harus bekerja dan hidup dilingkungan yang kurang kondusif. mereka harus puas dan bersyukur dapat sekolah gratis di yabim. walaupun dengan fasilitas dan tenaga pengajar seadanya.

pukul 13.00 aku ke stasiun ui. sampai disana aku melihat ada temanku yang semangat mengajak aku ikut TIS sudah ada disana . kami pun menunggu sampai teman-teman  kami kumpul semua. pukul 13.30 kami pun berangkat, itupun setelah kami menunggu kereta yang cukup lama. untuk hari ahad ini, KRL jakarta – bogor memang penuh. sesampainya di stasiun depok baru , kami pun langsung menuju lokasi. jarak antara stasiun dan lokasi kurang lebih 1 km. jarak yang cukup untuk merelaksasikan badan. 15 menit kemudian kami sampai di lokasi. betapa kagum dan terkejutnya aku. TIS ternyata menempati lokasi yang cukup bagus. bila dikategoriukan untuk sebuah tempat belajar informal yang pernah aku temui. bangunan yang berupa rumah kontrakan tersebut saya pikir  jauh lebih representatif dari sekolah master. ada beberapa perbandingan antara sekolah masjid terminal ( master ) depok dan TIS. sekolah master berdinding triplek dan ala kadarnya sedangkan TIS berdinding tembok ( walaupun kontrakan), jika sekolah master  terlihat semrawut dan terpampang apa adanya , TIS lebih rapi dan terkesan teratur. bila saya berhak menilai TIS, TIS lebih beruntung daripada sekolah master. hal ini mungkin disebabkan adanya dukungan dari alumni FT. Jika yabim/sekolah master harus kejar sana -kejar sini untuk cari dana dan belum pasti dukungannya dari siapa. TIS sudah terfokus dalam sumber dananya. dari namanya saja sudah ada embel-embel teknik, jadi sudah jelas segmentasi donaturnya adalah warga teknik UI.
setelah briefing sebentar, saya mulai dikelompokkan ke dalam tim pemateri. aku memilih kelas enam. ada berbagai alasan aku memilih kelas tersebut, yang pasti aku belum cukup sabar untuk memberikan materi bagi anak-anak. 8 siswa SD kelas emam adalah siswa  yang harus diberi materi dalam kelas ku dan 2 temanku. dalam pikiranku mulai da perbandingan lagi antar TIS dan Yabim/ master. siswa master adalah siswa primer, artinya mereka menimba ilmu hanya di sekolah master sedangkan TIS mungkin hanya dijadikan sebagai sekolah sekunder ( khusunya bagi anak SD). hal ini dikarenakan mereka masih beruntung dapat mengenyam pendidikan dasar formal dengan label negeri/disamakan. labrl yang cukup representatif untuk menunjukkan kualitas sebuah sekoalah dasar standar indonesia. kondisi anak-anaknya pun berbeda, jika di master mereka harus berjuang bekerja dan harus merasakan kerasnya kehidupan terminal, anak-anak TIS lebih beruntung . mereka dapat tinggal dengan keluarganya jika dapat menyamakan, TIS lanyaknya madrasah diniyah yang aku ikuti dikampung , ketika waktu kecil di siang sampai sore hari. jika madrasah fokus pada materi islam , TIS lebih ke materi sekolah umum.

Dalam kesempatan itu aku hanya merivew materi kelas 6 SD. cukup mudah, soalnya 8 siswa SD diajar 3 pengajar. aku pun berandai-andai, alangkah indahnya jika sekolah yabim / master dapat seperti TIS. aku membayangkan andai anak-anak jalanan di terminal depok dapat sukses, dapat bercita-cita tinggi,dan berani bermimpi. selamat berjuang senat FE  dan selamat berjuang pak rokhim….

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s