Catatan Kecil dari Yogyakarta 1

1

Dua pekan sudah,  ku habiskan liburan ini di kota Pendidikan, Yogyakarta.  Sebuah kota yang dapat memadukan antara kehidupan akademisi, budaya, dan religi. Mungkin bagi teman- teman sekalian yang sudah melalang buana ke seantero negeri ini / yang hoby traveller akan sangat susah menemukan sebuah kota seperti yogyakarta, benar ga ya? . Dimana nilai-nilai tradisional budaya jawa masih terbalut rapi dan dapat disandingkan dengan budaya akademisi yang cenderung membawa perubahan modern. Maka tak ayal lagi jika mayoritas masyarakat kita menjulukinya dengan “Kota budaya” .

Dalam perspektif saya (sebagai mahasiswa yang belajar ilmu eksak),  saya  tidak terlalu paham dengan teori budaya di kota ini. Namun, sebagai seorang manusia yang punya lima indra,  saya dapat merasakan harmonisasi kehidupan yang ada. Salah satu bukti nyata adalah di sekitar lingkungan kampus Universitas Gadjah Mada. sebagai sebuah kampus yang menjadi salah satu barometer pendidikan tinggi di negeri ini, UGM juga mempunyai mahasiswa yang multikultur. Bermacam-macam mahasiswa dari berbagai back ground kehidupan hadir di kampus yang tak jauh dari pusat kota jogja ini. Sehingga apabila diambil hipotesis sementara,  kehidupan kampus dan kehidupan real masyarakat sekitar  tentu terdapat sedikit sekat yang dapat menjadikan kedua kehidupan tersebut terpolarisasi. Namun kenyataan yang ada, dua kehidupan tersebut dapat berjalan harmonis dan bersifat mutualisme. Tidak hanya dalam kehidupan ekonomi masyarakat sekitar, tetapi juga dampak sosio-kultur. Nilai – nilai luhur dan keakraban masyarakat sekitar pun tidak terdegradasi dengan keberadaan jumlah mahasiswa yang secara struktural merubah susunan masyarakat.

Hal yang unik yang mungkin dapat menjadi sorotan bersama, adalah adanya transform nilai budaya ke dalam individu / mahasiswa pendatang. Sudah menjadi hal lazim dan diketahui bersama bahwa mahasiswa luar daerah yang menimba ilmu di kota budaya ini pasti akan sedikit paham tentang budaya daerah setempat ( baca: bahasa dan budaya jawa).  Maka tak heran bila ada yang memplesetkan kampus di jogja (mungkin : UGM adalah kampus jawa). Terlepas dari ada tidaknya transform budaya dalam diri mahasiswa , yang jelas mahasiswa yang belajar di yogyakarta (khususnya : ugm) adalah mahasiswa yang terkenal tekun, sederhana, dan setia terhadap pekerjaannya ketika sudah masuk ke dalam dunia kerja.

Trus bagaimana dengan saya,  sebagai orang jawa tulen yang belajar dikampus yang lingkungannya terdapat sekat/ tembok pemisah  yang jauh antara budaya kampus dan budaya masyarakat sekitar nya? Akankah ada transformasi nilai budaya positif dari masyarakat sekitar ke diri saya? Atau malah sebaliknya kehidupan mahasiswa mengikis nilai budaya dalam diri saya?

WaAllahu ‘alam

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s