Sekilas tentang Saya : InSerius dan InKonsisten

79327394_d6979d6d972

“Orang Indonesia (saya)  terkenal sebagai bagian (anggota ) masyarakat dunia yang ramah, namun dalam beberapa hal khususnya dalam keseriusan dan konsistensi  perlu di pertanyakan”

Kalimat di atas bukanlah perkataan orang bijak atau pakar. Bukan pula sebuah postulat yang teruji atau hipotesis yang perlu di uji. Barisan kalimat diatas hanya seuntai kalimat opini dan penjelasan judul cerita perjalanan hidup saya. Sebelumnya,  perlu diketahui bersama bahwa saya tidak bermaksud mengkritik orang Indonesia secara umum. Namun saya hanya merefleksi diri saya sendiri sebagai orang Indonesia. Seseorang yang inkonsisten dan kurang serius. Memang saya akui penggunaan kata orang Indonesia diatas terlalu berlebih-lebihan (lebay ). Tapi tidak apalah toh saya juga orang Indonesia yang punya hak sama untuk berbicara.

Secara sepintas mungkin ada sebagian pembaca yang teringat dengan sebuah judul buku  kumpulan puisi sastrawan Indonesia yang mirip dengan untaian  kata di atas. Ya, taufik ismail juga menggunakan kalimat yang hampir mirip dengan judul tulisan saya diatas. “malu (aku) jadi orang Indonesia”  begitulah kiranya judul buku tersebut.

Kembali ke substansi dari artikel ini. Jujur, memang harus saya akui untuk bersikap konsisten dan serius terhadap pilihan hidup yang kita ambil sangatlah berat. Banyak berbagai contoh yang telah saya tunjukkan dalam sikap ini. Mungkin teman- teman yang sudah sering berinteraksi dengan saya dapat menilainya sendiri. Namun, sekarang saya ingin menilai diri saya sendiri. Walaupun terkesan subjektif dan bukan hal yang penting untuk dibaca, toh blog ini adalah blog pribadi saya. Jadi , saya juga berhak menulis apapun tentang diri saya.

Hal penting yang menjadikan saya teringat tentang inkonsisten diri saya adalah tentang pilihan menentukan program studi untuk kuliah ini. Sebagian teman yang sering ngobrol dengan saya mungkin tau tentang cerita tersebut. Namun tidak apalah, saya ingin share lagi. Saya memlih jurusan teknik kimia UI kurang lebih saya putuskan  1 minggu sebelum UMB , sebelumnya ada berbagai macam jurusan yang telah saya apply untuk PMDK namun gagal ditengah jalan. Prodi pertama yang menjadi target saya adalah jurusan yang mempunyai peminat paling besar, di kota Solo. Tidak usah dijelaskan , pasti teman-teman juga sudah tau. Cita-cita saya waktu itu sederhana saja, saya hanya ingin kuliah di dekat rumah, kerja di dekat rumah, dan dapat membantu orang sekitar saya. Namun, takdir Alloh berkehendak  lain. saya tidak diterima di prodi favorit di universitas yang terletak di tepi sungai bengawan solo itu.

Bagaimana perasaan saya? Kesel? Sedih? . perasaan saya seperti perasaan teman – teman kebanyakan jika gagal masuk Univ yang di cita-citakan. Tapi tidak apalah toh itu baru PMDK , belum tes ujian masuk. Perjuangan kedua adalah mencoba mencari peruntungan di universitas yang punya nama di bumi khatulistiwa ini, namun saya ingin kuliah gratis alias tidak bayar. Kalo dipikir-pikir mungkin agak sedikit ide aneh , namun itulah yang harus saya hadapi mengingat kalo dikalkulasi ortu saya hanya bisa membiayai jika saya kuliah di kampus yang terletak di tepi sungai bengawan itu.

Target pertama adalah UGM, dengan jurusan Teknik Elektro. Setelah apply semua berkas via manual dan online, saya harap-harap cemas menunggu hasillnya. Tapi juga ada sedikit keraguan untuk kuliah di teknik elektro. Entah kenapa ada sedikit rasa yang kuang sreg. Selain itu , saya jug pesimis bagaimana mungkin saya bisa kuliah di salah satu jurusan favorit gratis, mengingat kemampuan saya yang terbatas. Akhirnya,  perjuangan untuk kuliah dikampus rakyat itu kandas juga.

Target kedua adalah ITS , dengan jurusan sama seperti target pertama. Setelah apply berkas yang hampir mirip dengan UGM. Akhirnya direspon juga oleh pihak penyeleksi. Tepat hari terakhir ujian nasional 2008 ada pihak yang datang ke rumah untuk wawancara keluarga. Waktu itu ada sedikit harapan untuk lolos , namun akhirnya kandas juga  di tengah jalan.

Setelah mengalami 3 kali kegagalan dalam mencari kuliah via jalur masuk non tes , non biaya. Saya mencari alternative lain, yaitu pembiayaan dari non universitas dan target keempatnya adalah FT UI.

Kenapa FT UI?

Pertama, Karena UI menggelar UMB,  jadi selain untuk uji SNMPTN, saya juga dapat mengalokasikan tes SNMPTN untuk memilih program studi terfavorit di kampus tepi seungai bengawan.

Kedua, karena pihak yang memberikan Bea***** mensyaratkan untuk masuk FT atau FT. kenapa tidak FK ya? Mungkin g kuat biayain . he..he…,

Masalah selanjutnya adalah program studi yang harus saya pilih, karena saya sudah trauma dengan jurusan TE di perjuangan saya yang kedua dan kedua maka saya harus mencari program studi yang lain. Setelah cari info via paman google akhirnya didapatkan dua kandidat program studi yaitu TGP dan TI. Dan akhirnya saya memilih TGP sebagai pilihan saya dan TMt sebagai pilihan kedua. Ada juga pilihan ketiga, yaitu FE Ilmu Ekonomi.

Alhamdulillah, dengan persiapan seadanya , pinjam buku sana- sini buku persiapan tes .  Saya diterima di FT UI program studi TGP/TK.

Jujur saja, saya tidak tau,  habis saya  lulus tekim mo jadi apa. Karena saya memilih jurusan ini , pada awalnya hanya dengan alasan teori peluang agar bisa kuliah tidak Ba***. Yang pasti perencanaan hidup saya berubah total dan kemungkinan saya jadi karyawan, yang siap kerja pagi dan malam. Hanya itu , tidak lebih.  Perubahan lingkungan tempat tinggal dan perencanaan hidup itulah yang membuat saya mulai memikirkan kearah manakah cita-cita saya diarahkan.

Diterimanya saya di FT UI , belum menjadi akhir dari perjuangan saya untuk berjuang…(lebay : mode on). Saya harus berusaha lolos untuk seleksi bea***** yang diselenggarakan 3 hari 2 malam di asrama Kampus UI depok.  Untuk antisipasi kemungkinan terburuk saya, membeli formulir SNMPTN dengan target agar masuk ke skenario satu (kuliah di solo). Setelah memebeli form tersebut, saya baru sadar kalo daftar ulang , bertepatan dengan tes SNMPTN. Dengan teori peluang lagi , saya memilih untuk tetap daftar ulang. Namun dengan konsekuensi, saya harus berjuang keras agar tetap survive jika saya tidak diterima dalam seleksi Be******.

Akhirnya , Alhamdulillah,   saya pun ditakdirkan untuk kuliah di kampus seribu danau tanpa beban. Langkah selanjutnya, adalah saya harus mulai merancang roda map hidup ini agar tetap bisa kerja di dekat rumah, tetap bisa belajar, dan tetap bermanfaat bagi lingkungan temapt tinggal saya. Doakan saya agar serius dan konsisten, amin.

Published by

harsono

a Javanese

11 thoughts on “Sekilas tentang Saya : InSerius dan InKonsisten”

  1. selamat mas. menyenangkan menjadi mahasiswa. saya pun ingin lagi. lagi. dan lagi.

    salam blogger,
    masmpep.wordpress.com

  2. ga tau juga, karena dulu emang agak suka fisika daripada kimia, paling males hafalin rumus kimia dan senyawanya. makanya, pilih TE, yang paling deket dgn fisika. tapi setelah dipikir2 utuk bikin background diri dan roadmap hidup yang paling nyambung utk tembus bea***** adalah TK. makanya saya ambil TK aja. he…he…

  3. Jadi dosen aja bang, bisa ngajar ampe tua & ilmu tekimnya kepake trus (dan kayaknya dosen tu santai banget ya ?? CMIIW, maklumin aja masi maba ne =p )

  4. keseriusan dan konsistensi perlu komitmen pada hati terdalam agar tidak jadi gayus he he he (maksute suci hati dan bersih tindakan). salaam kenal dari julianto kalimantan barat, aku juga alumni teknik kimia yogyakarta.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s