Sebuah Harapan : untuk Diriku dan Teman-Teman Terbaik yang Telah Kukenal dan Akan Kukenal

harapanSetiap orang di dunia ini pasti mempunyai harapan dalam hidupnya, termasuk diri kita. Harapan menjadikan hidup kita lebih semangat dan bermakna. Harapan juga menjadikan hidup kita  lebih teratur dalam rangka  menata kahidupan yang kita jalani. Secara umum  setiap orang mempunyai beraneka ragam harapan yang berbeda satu dan yang lainnya,  baik dari segi substansi dan cara mengungkapnya. Dari yang paling kelihatan logis, sampai yang paling konyol pun ada. Ada yang menaruh harapannya dalam tabung dalam tanah, ada yang menyatakan harapannya ditempat bersejarah, ada juga yang menyatakan harapannya dengan perbuatan-perbuatan yang jauh dari nilai-nilai agama. Namun, bila ditelusuri lebih lanjut muara harapan dari setiap orang di dunia ini hanya satu, yaitu KEBAHAGIAAN.

Persepsi untuk mengkonkretkan harapan bagi setiap orang berbeda-beda, tergantung  dari perjalanan hidup yang telah dijalaninya. Secara pribadi, saya mempunyai berbagai macam hipotesis yang  menjadikan manusia (kita ) bahagia. Kebahagian yang belum terwujud itulah yang menjadi harapan seseorang. Berikut ini asumsi-asumsi  tentang kebahagian yang ingin diraih manusia melalui harapan-harapannya :

1. Masuk Surga

Setiap orang beriman pasti menginginkan adanya kehidupan akhir yang bahagia. Namun sayangnya,  kita sendiri lupa untuk mempersiapkan diri untuk mewujudkan harapan tersebut. Padahal, kita sudah paham bahwa kehidupan sesudah kematian adalah kehidupan yang abadi dan kekal. Tetapi, alokasi waktu yang kita gunakan sehari – hari sangat sedikit porsinya untuk mewujudkan impian yang agung tersebut. Kita lebih sering berbuat sesuatu yang bebeda dari hal yang bernilai ibadah, malah (mungkin) kita sering melakukan hal yang bertentangan sangat jauh dari hal yang kita impikan tersebut.

2.  Kemapanan Finansial

Materi tidak dapat dipisahkan dari kehidupan. Bahkan sebagian besar impian dari manusia yang tinggal di bumi ini adalah materi. Sebagai seorang mahasiswa tentu pikiran kita tidak lepas dari harapan untuk berkecukupan materi. Berbagai macam aktivitas kita lakukan untuk mengejar pekerjaan idaman. Namun, kita sering lupa tentang apa yang akan kita korbankan untuk menebus sikap ambius kita tadi . Kita lupa bahwa untuk  mendapatkan high profit , kita harus juga mengorbankan  hal yang besar. Alokasi waktu yang seharusnya kita gunakan  untuk harapan di point satu diatas kita alihkan untuk pekerjaan, hak-hak untuk tubuh kita, kita abaikan, dan hal-hal lainnya. Kita berasumsi bahwa kita ingin membahagiakan keluarga kita, bapak/ibu dll dengan materi tersebut, namun kadang prediksi kita salah. Orang tua kita hanya ingin kita sholeh dan hidup selayaknya manusia biasa, taat beribadah, beribadah tepat waktu, dan mau meluangkan sedikit waktu untuk bercengkerama dengan oranag tua kita dan dapat diterima masyarakat ketika kita telah berumah tangga kelak.

Saya sebagai seseorang yang masih awam, tentunya tidak dapat intervensi apapun . saya juga tidak dapat menyalahkan, toh saya juga tidak tau latar belakang dari setiap individu. Namun yang jelas, sebagai seorang yang sudah dewasa tentunya kita semua sudah tau tentang konsekuensi hasil dan konsekuensi  pengorbanan dari pilihan hidup yang telah kita ambil.

3.Keluaraga yang Harmonis

Sudah menjadi kesepakatan umum bahwa kita semua mendambakan keluarga yang harmonis. Kita juga berandai-andai , suatu saat nanti kita mempunyai istri/suami yang baik, pengertian dan sesuai dengan kriteria yang kita tentukan. Kita ingin mempunyai anak-anak yang sholeh dan berbakti kepada orang tuanya. Namun, kita sering lupa terhadap diri kita sendiri. Sikap berbakti kita terhadap orang tua kita masih dipertanyakan. Kita masih bersikap kekanak-kanakan padahal kita sudah dewasa. Kita masih belum bisa mandiri dan kurang bisa menghormati orang tua kita. Kadangkala kita merasa lebih hebat , lebih pintar, lebih berpengetahuan dari orang tua kita, hanya karena kita kuliah di universitas favorit di negeri ini. Sehingga kita tidak memperhatikan nasihat dan peringatan dari bapak dan ibu kita.

4. Teman yang baik

Sebagai makhluk sosial, keberadaan orang lain tidak lepas  dalam kehidupan. Kita ingin orang – orang yang pengertian, mendukung kita, dan bersikap baik terhadap diri kita. Namun teman, kita susah sekali hanya untuk mendengarkan keluh kesah teman akrab kita. Bibir ini sulit sekali untuk melempar senyum manis yang dapat membuat orang disekeliling kita merasa bahagia. Berapa banyak kata-kata yang keluar dari mulut kita melukai orang-orang disekeliling kita. Kita berlagak sok tau, dan merasa paling ketika bersosialisasi dengan temen – teman kita, entah teman main di rumah, di kampus, dll. Sesungguhnya, orang disekiling tidak ingin apa-apa dari kita, mereka sudah merasa cukup bahagia dengan kebahagian yang kita raih. Mereka hanya ingin diperlakukan layaknya seorang teman yang baik. Sebagaimana yang telah dilakukan mereka untuk diri kita.

5. Lingkungan hidup yang baik

Suatu saat nanti kita ingin membentuk keluarga yang menjadi bagian dari masyarakat. Kita ingin masyarakat yang mau menerima kita. Masyarakat madani yang kondusif. Masyarakat yang menjadikan kita dan keluarga kita dapat tumbuh berkembang dengan baik, layaknya tumbuhnya bunga di musim semi.

Tetapi….

Kita sebagai seorang yang sudah cukup matang melupakan orang-orang yang tinggal disekelilingi rumah kita. Seolah kita menutup mata dan telinga kita. Tidak mau tahu apa yang terjadi. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut , seharusnya kita dapat berbuat. Kita adalah seorang yang berada dalam kasta tertinggi dalam struktur pendidikan formal. Bukankah , inti dari filosofi perguruan tinggi adalah pengabdian.

Kita bukanlah orang yang sempurna, dan tidak dapat sempurna. Namun kita harus yakin bahwa harapan yang kita impikan akan terwujud dari apa yang kita tanam kemarin, hari ini,  dan esok. Selain itu , kita juga harus ingat bahwa tak selamanya logika manusia itu terjadi dan berlaku, keterlibatan Allah masih terus akan ada selama kita masih menghela nafas. Kita tidak boleh takut akan kegagalan dan tidak boleh lari dari dzat yang menyebabkan kita gagal. Yakinlah bahwa skenario Allah adalah yang terbaik bagi kita.

Note : Tulisan ini dibuat ( khususnya) untuk refleksi diri saya sendiri. apabila pemabaca kurang berkenan dan apabila banyak kata-kata yang salah, saya mohon maaf.

Barakallahufiik.

Yogyakarta, 24 July 2009

Published by

harsono

a Javanese

15 thoughts on “Sebuah Harapan : untuk Diriku dan Teman-Teman Terbaik yang Telah Kukenal dan Akan Kukenal”

  1. meski rasanya di dedikasikan untuk diri sendiri, ternyata cukup bermanfaat juga buat orang lain…
    terimakasih…🙂

  2. kehidupan sebenarnya mengajarkan kita untuk tidak hanya mencari kebahagiaan pribadi tapi juga berusaha untuk saling berbagi…tfs mas!

  3. trmksh buat tulisannya yg begitu mencerahkan..
    ( stuju bgt sm 5 poin d atas itu)
    omong2 sy bru posting 2 tulisan, smoga dgn ngunjungi blog2 spt ini bsa memotivasi sy utk menulis…
    sy org asli dpok, salam kenal, keep posting..

  4. harapan…….begitu besar makna dari kata subuah harapan. harapan bisa membuat orang yang udah sekarat jadi pengen idup lagi.
    harapan…………….

  5. doa kepada allah semoga kita semua diberikan kemapanan dalam financial karena dalam financial yang mencukupi akan membuat kita tenang dalam ibadah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s