Parodi Kehidupan Kereta dari Yogyakarta hingga Jatinegara

keretaDi setiap tempat kita dapat mempelajari sesuatu hal yang menarik. Sesuatu hal yang bermakna dalam hidup kita, atau sesuatu hal yang dapat kita renungkan bersama. Kejadian-kejadian umum yang sepertinya kita anggap biasa, apabila kita selami lebih jauh akan terlihat sebagai hal yang luar biasa. Hanya tinggal menyiapkan pikiran sehat dan hati yang terbuka untuk berempati, kita akan mendapatkan sesuatu hal yang menarik untuk dilihat lebih dekat.

Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta dengan kereta bisnis Fajar Utama bagi sebagian orang adalah sesuatu yang membosankan. Begitu pula bagiku. Rasa panas, berisik para pedagang, pengamen, dan kereta yang sering berhenti di hampir setiap kota adalah hal yang kadang kala membuat hati ini jengkel. Namun, apalah gunanya aku jengkel. Toh tidak akan merubah keadaan. Itu sudah menjadi pilihan bagiku, membeli tiket kelas bisnis  dengan motif agar tidak merogoh kantong tidak terlalu dalam. sebagai mahasiswa daerah yang berasal dari kelas ekonomi  menengah kebawah, sebenarnya hal tersebut sudah wajar bagiku. Selama hampir 3 tahun sekolah , aku juga harus naik kenadaraan umum 3 jam perhari dengan kondisi yang hampir sama. Yah….itulah sebuah seni dalam hidup, mencari kebahagian di tengah kehidupan yang dianggap sebagian orang sebagai hal yang mustahil untuk hidup bahagia.

Tanggal 03 Agustus 2009, Tepat pukul 8.00 Waktu jogja aku dan temanku (bang irul FKG 2006) berangkat dari stasiun tugu Yogyakarta. Kami dari Utara UGM ke stasiun diantar dua orang  teman dari bekasi yang menuntut ilmu di Jogjakarta, iman dan aji. Tak ada yang asing bagiku di stasiun tersebut. ruang trunggu, satpam, suara nada peringatan stasiun, gerbong-gerbong kereta menjadi saksi atas kebarangkatan kami.

Yogya – Purwokerto

Perjalanan yogya purwokerta berjalan lancar, hampir tidak ada penjual dan pengamen. Awalnya juga sempat bingung, karena kata teman  “dari stasiun wates sampai Cirebon (bahkan Bekasi) ada saja penjual dan pengamen dikereta”.  Tapi sekarang kondisinya berbalik , sepi senyap.

Purwokerto-Cirebon

Pada rute ini banyak sekali penjual yang mencoba mengumpulkan uang dari penumpang kereta. Nasi pecel, lanting, kacang, mainan, air minum, Koran, bahkan buah sirsak yang baru dipetik pun dijual ke penumpang. Saya begitu salut terhadap perjuangan mereka. Semangat tanpa kenal lelah. Saya pikir dua pembeli saja dalam kereta sudah menjadi berkah tersendiri, mengingat  hari masih pagi dan belum ada yang merasa lapar.

Yang menarik perhatian ku kala itu adalah penjual yang rata-rata adalah ibu-ibu. Yah, wanita-wanita super yang mempunyai banyak peran, ibu bagi anak-anak, istri bagi suami, dan kadang kala (mungkin) sebagai tulang punggung keluarga. Dalam wajah yang dibuat seolah bahagia, untuk menarik konsumen, sesungguhnya terdapat beban hidup yang berat untuk dipikul. Yah, beban hidup agar dapur tetap mengepul dan anak – anak mereka setidaknya tidak bekerja selayaknya mereka. Saya sadar betul akan kalimat tersebut “setidaknya anak-anak ku tidak bekerja sebagaimana saya (orang tua)” , sebuah untaian kata sederhana yang menjadi nasihat orang tua jawa pada umumnya. Bagi diriku sendiri, ibu penjual  dan untaian kata tersebut mengingatkanku  pada ibuku dan kondisi kampungku. Yang sesungguhnya tak jauh beda dengan sebuah adegan skenario Allah yang aku saksikan di kereta ini. Betapa banyak hal yang telah dilakukan ibuku. Aku masih ingat betul waktu kecil, aku begitu bahagia jika diajak kepasar, menemani ibuku yang berjualan dipasar. Waktu itu aku merasa bahagia, dan ibuku terlihat juga bahagia. Namun, ternyata apa yang aku lihat waktu itu , tidaklah sebahagia kondisi realnya. Ada beban hidup yang harus dijalankan, sebuah kata sakti harus dibuktikan “anak-anak ku janganlah engkau bekerja sebagaimana ayah dan ibumu ini, biarlah bapak ibumu yang susah ,kalo pun Takdir Allah berkehendak lain setidaknya kehidupan engkau satu tingkat lebih maju dari orang tua mu”. Makna kehidupan disini sangat luas, baik kehidupan intelektual, religiusitas, ekonomi, dan social.

Bapak dan Anak Mengamen

Memasuki wilayah kab. Brebes rute kereta berada didaerah yang cukup pelosok. Parahnya, kereta malah berhenti agak cukup lama didaerah tersebut. saya lihat para penjual yang dari stasiun Purwokerto sudah mulai agak berkurang , tetapi masih ada. Kaos berwarna hijau paguyuban mereka , menjadi sebuah tanda yang pasti bahwa mereka pedagang dari purwokerto. Pengamen pun tak surutnya dengan pedagang dikereta. Salah satu yang masih aku ingat adalah bapak dan anak yang saya perkirakan berumur 45 dan 14 tahun. Tanpa lagu dan alat music apapun. Bapak dan anak tersebut meminta receh dari gerbong ke gerbong. Saat sampai dibangkuku, aku tidak memberinya karena memang persedian recehan ku habis. Dalam hal pengamen/peminta-minta selain keberadaan  ada tidaknya uang kecil, ada berbagai hal yang harus pertimbangkan. Pertama adalah  keberadaan musik. Jika  pengamin meminta dengan nyanyian ato music , kemungkinan besar tidak akan saya beri. Kedua kondisi Fisik, bila peminta-minta (dalam logika saya ) masih bisa memanfaatkan tenaganya untuk bekerja selain meminta-minta , kemungkinan besar juga tidak  akan kuberi. Ketiga, tatapan mata / raut mukanya, bila dalam feeling saya mereka adalah muka –muka malas juga tidak akan saya beri.

Bapak dan anak tadi secara sepintas memang tidak saya perhatikan dari awal sampai akhir di gerbong tempat saya duduk. Namun, kedua orang tersebut berdiri didekat stasiun yang berhadapan langsung dengan jendela temat duduk saya. Sang anak merogoh kantong bapaknya, baik di saku atau celana. Berharap mendapatkan recehan yang disembunyiakn bapaknya. Dari kelakuannya, saya melihat bahwa polah anak tersebut memang suka meminta. Karena dia merogoh kantong bapaknya dengan kedua tangannya dengan sedikit paksaan. Saya juga bingung dengan bapaknya, kenapa dia tidak bekerja. Toh disamping sekitar stasiun terhampar sawah dan ladang. Buakannya orang desa begitu fleksibel, dimana ada kemauan untuk mengutarakan niat bekerja akan dipekerjakan. Apakah jadi buruh cangkul, bersih, bersih lading, dll. Walaupun kadang kala bayarannya bukan rupiah, tetapi menunngu hasil panen. Tapi setidaknya lebih mulia dari meminta-minta.

Dua Anak Laki – Laki SD yang Bahagia

Disamping satasiun tersebut ada jalan setapak yang biasa dilalui warga. Dua anak SD yang baru pulang sekolah melewati jalan tersebut. saya perkirakan anak-anak tersebut kelas 3 atau 4 SD. Kebersamaan kedua anak manusia tersebut begitu erat. Dari melihat kereta yang berhenti di stasiun hingga  komentar –komentar dan diskusi lucu mereka tentang hal-hal yang mereka lihat. Walaupun saya tak mendengar apa yang mereka katakaan, tapi satu kata yang mewakili meraka , mereka  begitu BAHAGIA.

Selepas mereka melintasi jalan disamping jendela tenpat dudukku. Saya mesih melihat mereka. Mereka bergandengan tangan, merangkul bahu satu sama lain. Layaknya saudara kembar yang sedang berpetualang. Begitu indah mata ini memandang. Saya lihat dimata mereka bahwa sekolah bukan beban, bukan pula target prestasi yang didoktrinkan dan ditargetkan orang tua meraka. Sebagaimana orang tua diperkotaan , yang sebagian besar menganggap sekolah adalah cabang investasi yang harus ada returnnya. Sehingga saya kadang melihat sampai ada orang tua yang memberikan les kepada anaknya hingga terlalu over, padahal usia si anak masih tahap bermain.  Saya berandai-andai , seandainya setiap orang Indonesia seperti anak kecil tersebut. alangkahnya indahnya hidup ini.

Cirebon –Cikampek

Hidup adalah sebuah perjuangan. Sebuah lakon yang terus berulang, peadagang ibu-ibu, pengamen, penjual maianan, penjaul kopi dan pop mie . beraneka ragam produk  tak henti-hentinya mondar-mandir di gerbong kereta.

Cikampek –Bekasi –Jakarta

Hal yang sama masih berlaku disini. Namun , satu hal yang menarik adalah kondisi keluarga yang hidup disekitar rel kereta. Seolah sebagai masyarakat yang termarjinalkan. Mereka harus bekerja ekastra aktif. Hidup di lingkungan  yang tidak sehat, dan sarat akan polusi. Saya kurang tau apa background mereka, tapi asumsi saya sementara ini adalah mereka adalah orang – orang yang kurang beruntung untuk dapat survive di bumi yang indah ini.

03 Agustus 09, 17.10 saya tiba distasiun jati Negara. Berakhirlah parodi kehidupan yang sarat akan makna. Kehidupan mereka akan terus seperti itu, entah samapai kapan akan berhenti. Kehidupan yang meyatu dengan berjalannya kereta di atas rel , berharap asa dari penumpang kereta. Wa allahu’alam.

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s