Esai

Sudah cukup lama tangan ini kaku tidak menuliskan di catatan ini. setelah kembali ke jakarta , niat untuk menulis kembali meredup. padahal banyak sekali inspirasi yang ada. perjalanan depok-mampang  sebenarnya dapat menjadi catatan tersendiri yang dapat dituliskan dalam halamaan wordpress.

Berbicara masalah kegiatan di depok dan jakarta ,  saya termasuk bukan ornag yang sibuk. maen dengan junior yang ada di UI, mangkir ke KSM di pusgiwa dengan sedikit tugas yang harus diselesaikan, ngurus bayar BOP, dan anterin ponakan sekoalah. Tapi entahlah untuk  aktivitas menulis memnag begitu berat untuk dilakukan.

sedikit sharing, kemarin dapat tugas buat esai tentang refleksi 64 tahun kemerdekaan indonesia. jujur , saya bingung mo buat artikel apaan. tapi setelah berpikir panjang, akhirnya kuputuskan untuk menulis bidang pertanian. saya yakin esai saya jelek.  tapi saya tenang saja , toh itu bukan bidang saya. jika banyak salahnya saya akui kesalahan tersebut. karena saya tidak  mengumpulkan bahan yang banyak.  berikut ini esai saya :

Ketahanan Pangan : Paradoks yang tumbuh subur selama Enam Puluh Empat  tahun

Enam puluh empat tahun sudah negeri ini menjadi sebuah Negara yang diakui oleh komunitas dunia alias merdeka. Ibarat fase kehidupan , pada usia tersebut Negara Indonesia sudah dianggap mapan dan berpengalaman dalam menentukan sebuah kebijakan yang baik bagi rakyatnya. Begitu banyak sejarah yang telah terukir yang dapat menjadi bekal untuk menjadi pembelajaran bagi bangsa Indonesia. Namun, ada salah satu bidang yang sampai saat ini masih terlihat statis perkembangannya, yaitu masalah ketahanan pangan.

Ketahanan pangan merupakan masalah klasik yang sampai sekarang ini belum terselesaikan.  Lebih dari stengah abad bangsa ini merdeka, namun keberhasilan menciptakan ketahanan pangan hanya bisa tercapai pada tahun 1984, yang ditandai dengan sukesnya Indonesia sebagai Negara yang dapat berswasembada beras. Selain itu, Indonesia juga meraih  pengahargaan pangan dari organisasi pangan dunia (FAO).

Namun, setelah tahun 1984 tersebut indonesia kembali ke kondisi awalnya. Yaitu sebagai Negara pengimpor pangan, khusunya beras. Padahal kita tau sendiri bahwa Indonesia adalah negeri yang sangat cocok dengan mengembangkan  pertanian. Tanah yang subur, iklim yang bersahabat, air yang cukup , dan nutfah yang melimpah adalah factor yang sangat mendukung untuk hal tersebut. sayangnya, Mengapa paradoks ini terus menerus terjadi, itulah hal  yang menarik untuk diakaji.

Mendefinisikan Ketahanan Pangan

Dalam Jurnal Ekonomi Rakyat Tahun . II – No. 7 – Oktober 2003 Bayu Krisnamurti peneliti pertanian Intitut Pertanian bogor Menjelaskan :

Ketahanan pangan merupakan bagian terpenting dari pemenuhan hak atas pangan sekaligus merupakan salah satu pilar utama hak azasi manusia. Ketahanan pangan juga merupakan bagian sangat penting dari ketahanan nasional.  Dalam hal ini hak atas pangan seharusnya mendapat perhatian yang sama besar dengan usaha menegakkan pilar-pilar hak azasi manusia lain.  Kelaparan dan kekurangan pangan merupakan bentuk terburuk dari kemiskinan yang dihadapi rakyat, dimana kelaparan itu sendiri merupakan suatu proses sebab-akibat dari kemiskinan. Ketahanan pangan tidak hanya mencakup pengertian ketersediaan pangan yang cukup, tetapi juga kemampuan untuk mengakses (termasuk membeli) pangan dan tidak terjadinya ketergantungan pangan pada pihak manapun.  Dalam hal inilah, petani memiliki kedudukan strategis dalam ketahanan pangan : petani adalah produsen pangan dan petani adalah juga sekaligus kelompok konsumen terbesar yang sebagian masih miskin dan membutuhkan daya beli yang cukup untuk membeli pangan.  Petani harus memiliki kemampuan untuk memproduksi pangan sekaligus juga harus memiliki pendapatan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan pangan mereka sendiri.

Dari uraian diatas dapat diambil sesuah kesimpulan sementara bahwa ketahanan pangan tidak hanya  dimaknai sebagai sebuah penca[aian swasebada semata. Tetapi juga kemudahan akses pangan bagi seluruh rakyat dalam suatu Negara. Swasembeda hanya menjadi satu tahap pencapaian untuk mencapai ketahanan pangan yang sesungguhnya.

Paradoks itu akan selalu ada?

Kondisi pertanian yang semakin meperhatikan menadi sebuah paradoks yang terus melekat pada Negara Indonesia. Masih segar diingatan kita doktrin dari guru SD bahwa Indonesia adalah Negara agraris. Dalam benak kita , terpikir akan banyaknya pangan dan pesatnya pertumbuhan pertanian. Namun, kenyataannya pemenuhan kebutuhan pangan dalam negeri masih mengandalkan Negara lain. Hal itu berlangsung selama lebih dari setengah abad negeri ini merdeka.

Akar permasalahan dari maslaah ini adalah bergesernya arah pengembangan ekonomi. Walaupun topic ini telah di bahas sejak lama , sejak para ekonom soeharto menetapkan kebijakan ekonominya di awal orde baru. Namun, secara logis factor inilah yang tetap menjadi pemicu paradoks tersebut. kita dapat melihat bahwa kebijakan industrialisasi teah  kerawang, Jawa Barat , daerah  yang dahulu menjadi kawasan lumbung padi kini menjadi kawasan industri dan real estate mewah.

Arah kebijakan pertanian pun makin hari terlihat ke ranah wilayah abu-abu. Walaupun akhir-akhir ini kita sering mendengar klaim pemerintah  bahwa telah terjadi swasembada lagi dan Anggaran Pertanian dijamin akan terus naik. namun, perihal akses pangan masih sulit terjangkau bagi seluruh rakyat Indonesia. Qua vadis Kebijakan Pertanian Indonesia?

Kelangkaan  dan mahalnya pupuk, kemiskinan yang menghantui para petani, dimarjinalkannya industry pangan, merebaknya produk pangan Impor di pasaran, dan menjauhnya kaum muda dari pengembangan teknologi pertanian adalah bukti yang cukup untuk mneggambarkan memburuknya kondisi pertanian Indonesia. Sehingga tak ayal lagi bila di negeri yang mengikrarkan diri sebagai negaeri yang paling subur Ini akan sulit untuk memenuhi ketahanan pangan. Sebuah paradoks yang akan terus ada.

Pendidikan Pertanian

Regenerasi kaum muda Indonesia yang peduli tentang pertanian sangat kurang. Bidang keilmuan pertanian di perguruan tinggi sepi peminat. Hamper setiap tahun jumlah pendaftar peminat program studi bidang pertanian lebih sedikit daripada kuotanya. Kalaupun ada perguruan tinggi yang fokus di bidang pertanian ramai peminat, toh lulusannya juga kurang peduli terhadap pertanian. Kita dapat melihat bahwa lulusan program studi bidang pertanian lebih banyak bekerja dibidang non-pertanian daripada pertanian, lebih anehnya lagi brand image di khalayak lulusan pertanian malah lebih cenderung bekerja di bidang finance. Hal ini juga menjadi salah satu faktor lemahnya ketahanan pangan Indonesia.

Kaum muda yang seharusnya mendidik para petani, lebih cenderung egois dan tidak mau mengembangkan pengetahuannya untuk orang disekelilingnya. Sehingga penegetahuan petani akan teknologi dan inovasi pertanian cenderung statis.

Apakah Kita Harus Diam?

Pengembangan pertanian secara langsung berhubungan denagn stakeholder pertanian Indonesia. Petani, pemerintah, swasta , dan pihak-pihak yang paham akan pertanianlah yang berperan. Pemerintah selaku pihak yang paling mempunyai power dalam menjaga ketahanan pangan harus bekerja ekstra keras untuk berupaya mewujudkan ketahanan pangan. Swasembada beras tahun ini adalah salah satu langkah awal untuk menapaki ketahanan pangan yang lebih kuat lagi. Sebagai mahasiswa non-bidang pertanian tentu kita tidak dapat berbuat banyak. Namun, kita dapat melakukan langkah real yang setidaknya mendukung para petani Indonesia. pengurangan ketergantuangan terhadap satu jenis pangan adalah langkah yang tepat untuk menguatkan ketahanan pangan. penggguanan produk pangan lokal dan tidak mempunyai stigma negative terhadap pekerjaan bidang pertanian juga meruapakan langkah konkret yang dapat kita lakukan.

Published by

harsono

a Javanese

One thought on “Esai”

  1. jangan hanya menyesali sikap pemuda yang jarang mau ambil kuliah pertanian sih. Toh kita (saya & panjenengan) juga bukan di pertanian. Kita conserve aja lahan pertanian yang ada, sukur2 suatu saat kita punya sawah sendiri. smentara itu dulu komentarnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s