Bahasa Jalan Raya

Kehidupan di jalan adalah salah satu hal yang menarik untuk di amati. Banyak sekali kejadian-kejadian yang mungkin diluar pikiran kita. Kemacetan, polusi, lalu lalang kendaraan beserta manusia-manusia yang andil diadalamnya menjadi sebuah potret  kehidupan yang unik. Entah kenapa akhir-akhir ini aku begitu tertarik mengamati berbagai aktivitas yang ada di jalan raya.

Perjalanan Mampang–Depok  yang cukup melelahkan jika harus bolak-balik setiap hari. aktivitas ini menjadi  sebuah rutinitas yang harus aku lalui bila ada urusan ke Depok. Perjalanan tersebut dimulai dengan keluar dari jalan mampang Prapatan VI,tepat disamping Pom Bensin Pertamina.  Dari jalan tersebut akan mampak baleho iklan Pejaten Village. Tiga bulan lalu Hypermart , sekarang Gramedia. Entah besok apa lagi. Dapat ditebak, sebagai icon pusat perbelanjaan yang masih baru di daerah buncit kemungkiann besar toko-toko besar akan diiklankan lagi di jalan, tepatnya di jembatan penyeberangan. Tak banyak yang spesial di jalan tersebut, selain lalu lintas kendaraan yang lalau lalang.

Satu hal yang menarik adalah menyimak tingkah polah pengendara di lampu merah. Bengong, bercakap-cakap, dan cemas tidak sabar. Kalo sudah macet lama, klakson lah yang menjadi andalannya. Saya kadang juga bingung, bila ada kendaraan yang agak lama jalannya , pasti suara klakson dari belakang sudah menyerbu. Kasihan juga orang yang  mempunyai mobil atau motornya sudah tua, yang kadang-kadang kendarannya agak rewel ketika lampau hijau menyala . Padahal kebanyakan juga sudah pada tau , kurang dari satu menit lagi juga berjalan. Untuk bersabar sesingkat itu saja begitu berat, dan kekesalan harus diungkapkan orang dengan membunykan klakson berkali-kali. Bila berpikir logis, kajadian itu malah akan menambah polusi. Setelah polusi udara, bertambah menjadi polusi suara.

Hal lain yang mengindikasikan suasahnya bersabar di jalan, adalah kopaja/metromini yang berebut penumpang. Ujung-ujungnya berimbas pada saling kejar mengejar antar metromini. Hal ini tidak hanya berdampak pada tidak tertibnya lalu lintas, yang berdampak pada risiko keselamatan, tetapi juga penumpang kendaraan tersebut. penumpang disuruh buru-buru turun oleh kondektur metromini dengan motif agar tidak terkejar kendaraan dibelakangnya atau dapat menyalip kendaraan didepannya.

Saya jadi terpikir, apakah tidak ada jadwal yang mengatur mobilitas dari kendaraan-kendaraan tersebut? atau karena tekanan hidup yang berat harus memaksakan pekerjaan, yang notabennya melanggar hak orang lain?

Published by

harsono

a Javanese

One thought on “Bahasa Jalan Raya”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s