Di dalam Kopaja 57

Di setiap tempat kita menjaalani hidup ini akan selalu ada cerita yang menarik untuk dibagi. Cerita kehidupan yang akan dapat dikenang, khususnya bagi  kita  sendiri yang mengalaminya.

Hari selasa, 25 Agustus 2009 adalah hari yang bersejarah bagi temanku. Pada hari ini dia menjalani seleksi wawancara beasiswa mombukagakusho di Kedutaan Besar Jepang yang terletak diderah Bilangan Bunderan Hotel Indonesia.

Sebagai seorang mahasiswa yang  sudah setahun ini tinggal di depok dan bermobilisasi di sekitar jakarta, wilayah tersebt tentu sudah tidak asing lagi bagai saya. Karena memang teman saya juga berasal dari daerah saya pun mengantarkannya untuk seleksi wawancara.

Wawancara di mulai pukul 8.30, maka kami berangkat dari depok sekitar pukul 6.00. Alhamdulillah kami sampai di kedutaan jepang sekitar pukul 8.00

Sebagaimana wawancara beasiswa lainnya,  peserta seleksi pun dimasukkan di ruangan tertutup.  Hal yang paling membosankan  dalam kesempatan tersebut adalah bagi yang mengantarkannya. Hanya menunggu dan menunggu hingga wawancara usai. Entah siapa yang memulai ,saya pun hanya mengisi waktu menunggu tersebut dnegan berbincang-bincang dengan orang tua yang mengantarkan anaknya seleksi wawancar tersebut. Berbagai info tambahan tentang beaiswa mombukagakusho/ mext saya dapatkan. Karena ada salah satu orang tau yang anak pertamanya di terima sebagai scholars Mext.  Lama  kami bercakap-cakap akhirnya ada salah seorang bapak-bapak yang mengajak kami ke GI. Karena kebetulan dari dari medan, yang jarang pegi ke Jakarta. Sebenarnya saya juga agak sedikit malas maen ke pusat perbelanjaan. Namun karena pertimbangan di GI ada toko buku  gramedia dan saya sudah  terlau lama menunggu dan bosan menunggu. Akhirnya, saya putuskan untuk ikut ke GI.

Setelah dari GI saya harus menunggu lagi hingga tiga jam, dan akhirnya pada sore hari proses wawancara teman saya selesai. Saya pun pulang ke Mampang dan teman saya pulang ke depok. Karena dia menginap di salah satu kos teman saya yang lain. Kami berpisah di terminal Blok M , saya memilih Kopaja 57 dan teman saya memilih Kopaja 63. Sekitar pukul 16.30 kopaja meninggalkan terminal blok M. dapat dipastikan rute yang dilewati akan macet total. Jalan senopati-Suryo  ynag merupakan akses short cut sudirman-kemang pasti berjubel dengan kendaraan, kondisinya pun dapat dipastikan padat merayap. Sopir kopaja pun mengambil inisiatif untuk mengambil jalan ynag berbalik kearah selatan yaitu ke pasar santa dan tembus ke jalan wijaya.

Ada ysngg menarik dalam perjalan saya pulang ke Mampang. Dua pengamen kecil menjadi teman bercakap –cakap saya dkopaja dari blok M hingga perempatan Gereja Santa. Dua pengamen kecil yang berusia sekiatr 11 dan 7 tahun tersebut naik dari terminal blok M. awalnya saya tidak begitu memperhatikan kedua anak kecil itu. Bagi saya  dan kebnyakan penumpang kopaja tersebut memang sudah umum dan lazim banyak anak kecil yang menjadi pengamen di daerah Jakarta, khususnya daerah yang dekat dengan terminal.

Sebagaimana pengamen kecil lainnya, kedua anak kecil tersebut memulai aksinya dengan membagikan amplop kosong kepada para penumpang. Sembari menunggu penumpang memberikan uang, kedua anak itu pun memulai menyanyi. Mungkin Karena ramadhan, kedua naak kecil tersebut membawakan salah satu lagu yang sering muncul di TV ketika ramadhan tiba. Walaupun terdengar agak false dan  mengganggu ketengan penumpang, kedua  anak tersebut menyanyikan lagu tersebut hingga usai.

Amplop yang diserahkan kepada penumpang pun diminta kembali oleh kedua anak itu. Setelah terkumpul mereka menghitungnya. Karena tempat duduk penuh , mereka menghitung perolehan  hasil ngamen sambil berdiri. Tepat disamping tempat duduk saya. Saya pun mengamati tingkah polah mereka, ada bebreapa pertanyaan yang dipikiran saya. Tapi entahlah untuk menyapa dan mengajak berbicara kedua anak kecil itu, saya masih enggan. Hal ynag menarik dari kedua anak kecil tersebut adalah setiap dia membuka amplop dan mendapati ada uang diamplop , mereka mengucapkan amin sambil mengusapkan kedua tangan mereka ke muka. Pemandangan yang lucu  bagi saya, melihat kepolosan kedua anak tersebut. mereka juga tak henti-hentinya bercakap-cakap di kopaja tersebut. Dari mulai obrolan tentang apa yang dilihat di sepanjag jalan, hingga obrolan tentang tempat bermain yang terletak disalah satu pusat perbelanjaan di Blok M.

Karena kabetulan disamping tempat saya duduk ada tempat kosong dan keberadaan mereka mengganggu kondektur bus yang menarik ongkos, saya menpersilahkan kedua anak kecil tersebut duduk. Saya ajak kedua anak kecil tersebut mengobrol. Ternyata, tak ada bedanya cara mereka berbicara dengan anak kecil pada umumnya. Yang saya keget dari keduanya, adalah keduanya  masih duduk di bangku sekolah formal. Mereka mengamen bukan karena suruhan orang tua mereka, tetapi karena ajakan dari kakak mereka dan upaya untuk mendapat uang jajan. Orang tua mereka tidak menyuruh dan tidak melarangnya. Berbagai macam pertanyaan saya ajukan , dari kondisi keluarga mereka, kondisi sekolah mereka, hingga cita-cita mereka. Dengan jawaban yang polos salah satu dari mereka menjawab  dengan lantang  ingin menjadi pilot. Bagiku jawaban tersebut Sebuah jawaban yang kreatif dan cerdas. Saya pikir mereka masih mempunyai modal untuk lebih maju, sebuah modal keberanian mengungkapkan cita-cita. Yang bagi sebagian orang sangat berat untuk diungkapkan.

Obrolan kami pun tidak hanya satu arah, dia tidak menjawab hanya dengan jawaban pertanyaan yang saya tanyakan. Tetapi kedua anak tersebut kadang melontarkan pertanyaan balik kepada saya. Pertanyaan yang polos dan cerdas. Mereka ingin mengetahui bagaimana menjadi pilot. Saya hanya menjawab dengan satu jawaban, “kalian harus rajin belajar”. Saya pikir itu adalah jawaban yang tepat untuk mereka. Saya lanjutkan lagi dengan bertanya tentang prestasi mereka dan perhatian guru mereka disekolah.  Dari jawaban mereka saya mempunyai kesimpulan sementara , Saya rasa kedua anak tersebut mempunyai potensi untuk maju, untuk terus berkembang dan terus berprestasi. Saya hanya berharap mudah-mudahan mereka dapat terus memiliki  rasa ingin tahu yang tinggi dan semangat untuk belajarnya.

Di Perempatan gereja Santa anak – anak kecil itu turun. Sebelum turun mereka pun pamit kepada saya. Dan Saya pun mengiakannya.

Published by

harsono

a Javanese

One thought on “Di dalam Kopaja 57”

  1. wah… lagi nyari jalur kopaja 57 … mampir ke sini😀..

    Makasih inpo nya mas…. jadi tahu deh buat kondangan hari minggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s