Karakter

Siklus tahunan itu kini telah bergulir ke dalam fasenya lagi. Beragam aktivitas yang mewarnai kegiatan tersebut mulai marak, lobi secara personal, pasang banner, flayer, baleho, dan penciptaan personal branding yang dilakukan secara kolektif, hingga rencana rahasia antar rival mulai digelar di tempat-tempat strategis. Tak hanya waktu, tenaga dan dana pun mulai menjadi sebuah harga yang harus digadaikan dengan kegiatan tersebut. Kegiatan tersebut dinamakan sebuah pemilihan raya keorganisasian di sebuah PTN diselatan kota jakarta.

Sebenarnya saya tidak terlalu suka berbicara masalah ini. Toh, ga ada yang jauh beda dengan pemilihan sebelum-sebelumnya. Ada berbagai calon dari berbagai platform dan background. Bagi yang sudah familiar dengan sebuah aktivitas politik mahasiswa maka sudah tak asing lagi dengan kendaraan yang dibawa oleh calon masing-masing. Ada yang berbasiskan massa dari mushola hingga basis massa dari organisasi yang pernah diikutinya. Sebagai seorang yang dapat dikategorikan apatis dari kegiatan ini , saya pun tak ambil pusing. Mau dari background apapun, terserah siapa calonnya , entah apakah saya milih atau tidak milih. Jika saya belum teryakinkan saya g akan milih, buat apa milih jika hanya atas dasar fanatisme dan lobi –lobi personal yang saya juga tak tau kesehariannya seperti apa.

Entah mengapa pemira dalam ruang lingkup skala universitas tak terbesit untuk mengetahui lebih lanjut. Saya tau hanya karena ada simpatisan yang terlalu berlebihan dalam berkampanye  dikelas dan dekat tempat ibadah atau karena balehonya terpasang besar didepan fakultas. Yah, tau sendirilah siapa calonnya. Sampai sekarang pun saya tak ada minat untuk mengetahui visi misinya. Entah, apakah saya orang yang apatis, tidak peduli, atau seorang yang aneh, tapi saya yakin bahwa orang yang seperti saya jauh lebih banyak daripada orang yang aktif.

Hal jauh yang kadang menarik untuk diamati adalah pemilihan ditingkat fakultas dan jurusan. Model jualannya pun sedikit berbeda, bila pada tingkat universitas lebih kejualan visi, misi dan track record organisasi. Model jualan di ranah ini lebih ditikberatkan pada jualan karakter. Dengan tim yang aktif untuk personal branding dan personal campaign. Satu kata yang menarik untuk dibahas adalah “karakter”.

Kenapa karakter?

Pemilihan ditingkat komunitas yang lebih kecil mempunyai tantangan yang lebih susah, karena interaksi antara calon pemilih dan yang dipilih lebih intens, sehingga karakter dari setiap calon pemimpin sudah diketahui secara terperinci oleh setiap calon pemilih. Walaupun dengan persepsi masing-masing. Model jualan yang mencoba membuat image baik dari karakter calon sangat efektif bila calon mempunyai karakter yang terkenal baik. Sedangkan seseorang yang mempunyai karakter kurang kuat akan sussah untuk laku dalam proses jualan tersebut.

Analoginya sederhana apabila ada dua buah toko didekat rumah anda, dengan jualan produk dan harga jual yang sama anda akan memilih penjual yang lebih berkarakter baik, katakanlah ramah / murah senyum. Begitupula dengan model pemilihan ini, visi dan misi dari masing – masing yang hampir sama dan terlihat klise dari tahun ke tahun, menurut saya tak akan berpengaruh banyak terhadap sikap pemilih.  Cobalah anda amati diksi dari visi dan misi selalu berkutat pada “bagian bawah dari sebuah pohon yang menyerap air”, “iritabilita”, “antonym jauh”, dll.

Sebuah konklusi Sederhana

Saya tidak mengerti tentang politik dan dapat dikatakan apatis. Tapi biarlah, ini adalah pilihan hidup saya. Saya hanya bisa mengamati dengan perspektif saya , yang mungkin jauh dari perspektif kebenaran. Namun biarlah seperti ini , ekspresi tulisan ini bukanlah opini publik atau kompilasi dari rujukan. Bait – bait paragraph diatas adalah  hanya sekedar sebuah tulisan untuk mengisi sebuah blog yang telah lama saya tinggalkan. Sebagai sebuah penutup “Dalam pemilihan yang paling besar ditingkat universitas , kendaraan para kandidatlah yang berpengaruh , sedangkan dalam  ranah yang lebih kecil karakter para calonlah yang berpengaruh. Bagi yang minat menjadi sang pemenang dari seleksi tersebut untuk taun mendatang dapat dimulai dengan merapat kekendaraan atau menciptakan personal branding yang baik”.

Published by

harsono

a Javanese

One thought on “Karakter”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s