Catatan di Akhir Semester Tiga

Di malam menjelang tidur ini dengan bermodalkan koneksi internet yang sebatas bisa buka situs web, ingin rasanya menuliskan sedikit tulisan di WP yang telah lama saya tinggalkan.

Alhamdulillah, puji Syukur kepada Allah, Rob Semesta Alam. Tepat pada tanggal 21 Desember kemarin berakhirlah masa kuliah di semester tiga ini. Semester yang dikatakan oleh sebagian orang sebagai semester gerbang belajar tentang apa yang kita tekuni. Jika semester satu dan dua kemarin adalah semester persiapan memasuki bidang kita, maka sekaranglah kita benar-benar memasuki gerbang bidang keilmuan yang kita miliki. Setuju atau tidak setuju dengan pendapat tersebut, yang pasti di semester ini kita dituntut untuk lebih focus terhadap bidang yang telah kita pilih.

Begitu banyak catatan yang ingin dicurahkan dalam tulisan ini tapi entah kenapa kran alur birpikir dalam menulis begitu seret. Apakah pikiran ini dah mulai malas karena sudah lama tidak menulis ataukah itu Cuma ilusi belaka. Maksud saya, sebenarnya tidak ada yang perlu dituliskan. Sebagai sebuah catatan akhir, tentunya tulisan ini berbentuk refleksi. Sebuah tulisan yang menjadi sebuah ingatan tentang apa yang telah saya lakukan dalam enam bulan lalu. Apakah catatan akademis, pergaulan , atau catatan tentang target yang ingin dicapai. Tapi saya punya pikiran lain, saya ingin menuliskan apa yang ingin saya tulis. Kalaupun genre dari judul dari tulisan ini adalah sebuah refleksi , saya ingin memandangnya dari sudut pandang yang lain.

Memberikan sebuah refleksi sama hal nya memberikan sebuah komentar dan sebuah penilaian terhadap apa yang telah dilakukan. Sebagai suatu tanggapan terhadap masa lalu tentanya ada berbagai hal yang harus saya hindari, Pertama , saya usahakan tidak akan menyesal terhadap apa yang telah saya pilih. Saya yakinkan pada diri saya untuk menanggung semua risiko terhadap jalan yang telah saya pilih, menutup rapat dan membuang jauh pengandaian-pengandaian tidak jelas yang sering menggoda untuk dipikirkan. Kedua, menceritakan pengalaman pribadi kadang kala menjadikan saya untuk mencari pembenaran terhadap kesalahan yang telah saya lakukan. Dan saya pikir hal tersebut menjadikan saya untuk takut mengatakan saya Salah dan terbawa pada elakan-elakan logis yang dibuat-buat untuk menjadikan diri ini ada dimata khalayak. Ketiga, ada kalanya filter dalam otak ini sering bocor dalam memilih dan memilah , mana yang menjadi standar privasi dan mana yang layak untuk dishare ke orang lain. Dan kalopun layak untuk dibagi ke orang lain , apakah lawan bicara kita sudah tepat untuk mengetahui hal-hal yang menjadi privasi saya. Asumsi saya sederhana, pada dasarnya saya percaya bahwa kebanyakan orang suka menceritakan perjalanan hidupnya dengan segala motif untuk apa dia menceritakannya. Anggapan tersebut saya akui juga berlaku pada diri saya.

Sebagai sebuah refleksi sederhana saya , saya hanya bisa mengungkapkan dalam bentuk ungkapan motivasi sederhanauntuk diri saya sendiri :
“Yakin terhadap bidang / pilihan yang saya pilih, bersikap profesional terhadap segala aktivitas yang saya lakukan adalah modal utama untuk masa depan, walaupun aktivitas tersebut dianggap remeh dan tidak ada harganya dimata orang lain, tetapi tetap lakukan aktivitas tersebut dengan ikhlas, senang hati dan kesungguhan (professional)”.
Terasa lelah mata dan badan ini, dan memaksa untuk istirahat.

Mudah-Mudahan Esok lebih baik (Selalu)..…..(Amin)

Published by

harsono

a Javanese

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s